Kerajaan Samudra Pasai (1267-1524)

5/5 (2)

Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Kerajaan Samudra Pasai? Admin pendidikanmu akan berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain: Sejarah, Letak, Silsilah, Masa Kejayaan, Runtuhnya dan Peninggalan.

Kerajaan-Samudra-Pasai

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai

Kesultanan Samudra Pasai juga dikenal dengan Samudera, Pasai atau Samudera Darussalam merupakan kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu yang bergelar Malik al-Saleh pada tahun 1267 M dan berakhir pada tahun 1521 yang dikuasai oleh Portugis.

Raja pertama bernama Sultan Malik as-Saleh yang wafat pada tahun 696 H atau 1297 M, kemudian dilanjutkan pemerintahannya oleh Sultan Malik at-Thahir.

Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudera Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah di Samudera Pasai adalah sebagai berikut:

  1. Sultan Malik al-Saleh – berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antar lain melalui perdagangan dan memperkuat angakatan perang. Samudera Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di selat malaka.
  2. Sultan Muhammad (Sultan Malik al-Thahir I) – yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa memerintahannya kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan kerajaan Samudera Pasai.
  3. Sultan Malik al-Thahir II (1326-1348) – Raja yang bernama Asli Ahmad ini sangat teguh memegan ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya.

Pada masa pemerintahannya, Samudera Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar Samudera Pasai. Namun, setelah muncul kerajaan Malaka, Samudera Pasai memulai memudar. Pada tahun 1522, Samudera Pasai diduduki oleh Portugis.

Keberadaan Samudera Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh kerajaan Aceh yang muncul kemudian. Seorang pengembara Muslim dari Maghribi, Ibnu Bathutah sempat mengunjungi Pasai pada tahun 1346 M, ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, ia melihat adanya kapal Sultan Pasai di negeri Cina.

Memang, sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyebutkan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar.


Letak Kerajaan Samudra Pasai

Letak Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudera Pasai beribu kota di Pasai. Ibu Kota Pasai sendiri sekarang tidak ada lagi bekas-bekasnya. Kira-kira letak Pasai adalah di sekitar Negeri Blang Me sekarang. (Daliman: 101). Letak kerajaan ini lebih kurang 15 KM di sebelah timur Lhoksumawe, Nanggroe Aceh. (Abdul Haidi: 22). Salah satu sisi Kerarajaan Pasai berbatasan dengan Kerajaan Pirada.

Di sisi lain kerajaan ini berbatasan dengan Negeri Batak. Wilayah Pasai tetbentang di sepanjang pesisir pantai. Perbatasannya yang terletak di pedalaman bersinggungan dengan wilayah Raja Manicopa,  yang memiliki akses ke laut di sisi yang berlawanan. Kedua wilayah ini kerap berperang satu sama lain. (Tome Pires: 201).

Tumbuhnya Kesultanan Samudera Pasai tidak dapat dipisahkan dari letak geografisnya yang senantiasa tersentuh pelayaran dan perdagangan internasional melalui Selat Malaka. Sejak abad VII-VIII para pedagang muslim dari Semenanjung Arabia, Persia, dan negeri-negeri di Timur Tengah lainnya mulai memegang peranan penting.

Turut serta dalam jaringan pelayaran dan perdagangan internasional yang jaraknya lebih jauh yaitu dari Teluk Aden dan Teluk Persia, melalui Samudera Hindia dan Selat Malaka sampai Laut Cina Selatan. Perkembangan jaringan pelayaran dan perdagangan melalui Selat Malaka sejak berabad-abad tersebut disebabkan pula oleh upaya-upaya perkembangan kekuasaan di Asia Barat di bawah Dinasti Umayyah (661 M – 750 M). Asia Timur di bawah Dinasti Tang (618 M – 907 M). Asia Tenggara di bawah Kerajaan Sriwijaya (Abad VII – XIV). (Abdul Haidi: 21-22). Dengan timbulnya Kerajaan Samudera pasai maka Kesultanan Perlak mengalami banyak kemunduran. (Daliman: 105).


Silsilah Raja Kerajaan Samudra Pasai

Antara tahun 1290 dan 1520 kesultanan Pasai tidak hanya menjadi kota dagang terpenting di selat Malaka, tetapi juga pusat perkembangan Islam dan bahasa sastra Melayu. Selain berdagang, para pedagang Gujarat, Persia, dan arab menyebarkan agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam tradisi lisan dan Hikayat Raja-raja Pasai, raja pertama kerajaan Samudra Pasai sekaligus raja pertama yang memeluk Islam adalah Malik Al-Saleh yang sekaligus juga merupakan pendiri kerajaan tersebut.

Hal itu dapat diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Melayu, dan juga hasil penelitian atas beberapa sumber yang dilakukan para sarjana Barat terutama Belanda seperti Snouck Hurgronye, J.P. Molquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan syarif Makkah yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh. Nisan itu didapatkan di Gampong Samudra bekas kerajaan Samudra Pasai tersebut.

Merah Selu adalah putra Merah Gajah. Nama Merah Gajah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatra Utara. Selu kemungkinan berasal dari kata sungkala yang aslinya juga berasal dari utrid Chula. Kepemimpinannya yang menonjol membuat dirinya ditempatkan sebagai raja.

Dari hikayat itu pula, dijelaskan bahwa tempat pertama yang dijadikan sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara Sungai Peusangan yaitu sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai yang memudahkan perahu-perahu serta kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke pedalaman dan sebaliknya.

Di muara sungai itu ada dua kota yang letaknya berseberangan yaitu Pasai dan Samudra. Kota Samudra terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan Pasai terletek lebih ke muara. Di tempat terakhir inilah banyak ditemukan makam-makam para raja.

Dalam berita Cina dan pendapat Ibn Batutah yang merupakan pengembara terkenal asal Marokko, dari Delhi mengatakan bahwa pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) ia melakukan perjalanan ke Cina. Ketika itu Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malik Al-Zahir, putra Sultan Malik Al-Saleh.

Menurut sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil Sa-mu-ta-la (Samudra) mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim yaitu Husein dan Sulaiman. Ibnu Batutah juga menyatakan bahwa Islam sudah hampir satu abad lamanya disiarkan di sana. Ia juga meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat keagamaan rajanya yang seperti rakyatnya, yaitu mengikuti mahzab Syafi’i.

Dalam bertinya juga dijelaskan bahwa kerajaan Samudra Pasai pada saat itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan.

Dari uang dirham yang ditemukan di kerajaan ini, dapat diketahui nama-nama raja beserta urutannya, karena dalam mata uang-mata uang yang ditemukan itu terdapat nama-nama raja yang pernah memerintah kerajaan ini. Adapun urutannya adalah sebagai berikut:

  1. 1267 – 1297 → Marah Silu Sultan Malik as-Saleh
  2. 1297 – 1326 → Sultan Muhammad Malik az-Zahir
  3. 1326 – 1345 → Sultan Mahmud Malik az-Zahir
  4. 1345 – 1383 → Sultan Ahmad Malik az-Zahir
  5. 1383 – 1405 → Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir
  6. 1405 – 1412 → Sultanah Nahrasiyah
  7. 1405 – 1412 → Sultan Sallah ad-Din
  8. 1412 – 1455 → Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir
  9. 1455 – 1477 → Sultan Mahmud Malik az-Zahir II
  10. 1477 – 1500 → Sultan Zain al-Abidin ibn Mahmud Malik az-Zahir II Sultan Zain al-Abidin II
  11. 1501 – 1513 → Sultan Abd-Allah Malik az-Zahir
  12. 1513 – 1521  → Sultan Zain al-Abidin III

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Samudra Pasai

Menurunnya peranan kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Di bawah kekuasaan Samudera Pasai, jalur perdagangan di Selat Malaka berkembang pesat. Banyak pedagang-pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat yang berlabuh di Pidie, Perlak dan Pasai.

Pada masa raja Hayam Wuruk berkuasa, Samudera Pasai berada di bawah kendali Majapahit. Walau demikian Samudera Pasai diberi keleluasan untuk tetap menguasai perdagangan di Selat Malaka. Belakangan diketahui bahwa sebagian wilayah dari kerajaan Majapahit sudah memeluk agama Islam. Awal abad 15 M, Samudera Pasai mengirim utusan untuk membayar upeti kepada Cina dengan tujuan mempererat hubungan diplomatik dan mengamankan diri dari serangan kerajaan Siam dari Muangthai.

Pada masa kekuasaan Samudera Pasai, uang dirham sudah dipakai sebagai alat tukar menukar, di salah satu sisi uang tertulis kalimat Sultan yang Adil. Selama kerajaan-kerajaan Islam berkuasa di Indonesia, telah banyak terjadi perlawanan yang dilakukan oleh pihak kerajaan setempat atau “pemberontak” yang tak setuju kaum penjajah Eropa campur tangan terhadap urusan dalam negeri Karena letaknya yang strategis, di Selat Malaka, di tengah jalur perdagangan India, Gujarat, Arab, dan Cina, Pasai dengan cepat berkembang menjadi besar.

Sebagai kerajaan maritim, Pasai menggantungkan perekonomiannya dari pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat dagang di Nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina. Salah satu sumber penghasilan kerajaan ini adalah pajak yang dikenakan pada kapal dagang yang melewati wilayah perairannya.

Berdasarkan catatan Ma Huan yang singgah di Pasai tahun 1404, meskipun kejayaan Kerajaan Samudera Pasai mulai redup seiring munculnya Kerajaan Aceh dan Malaka, namun negeri Pasai ini masih cukup makmur. Ma Huan ini seorang musafir yang mengikuti pelayaran Laksamana Cheng Ho, pelaut Cina yang muslim, menuju Asia Tenggara (termasuk ke Jawa).

Ma Huan memberitakan bahwa kota Pasai ditidaklah bertembok. Tanah dataran rendahnya tidak begitu subur. Pada hanya ditanam di tanah kering dua kali dalam setahun. Lada, salah satu hasil rempah-rempah yang banyak diminati pedagang asing, ditanam di ladang-ladang di daerah gunung. Berita mengenai Samudera Pasai juga didapat dari Tome Pires, penjelajah dari Portugis, yang berada di Malaka pada tahun 1513.

Tome Pires menyebutkan bahwa negeri Pasai itu kaya dan berpenduduk cukup banyak. Di Pasai, ia banyak menjumpai pedagang dari Rumi (Turki), Arab, Persia, Gujarat, Tamil. Melayu, Siam (Thailand), dan Jawa. Begitu pentingnya keberadaan Samudera Pasai sebagai salah satu pusat perdagangan, tak mengherankan bila ibukotanya yang bernama Samudera menjadi nama pulau secara keseluruhan, yaitu Sumatera.


Kehidupan Sosial-Budaya Kerajaan Samudra Pasai

Telah disebutkan di muka bahwa, Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu.

Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya. Sejalan dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf.

Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari Sultan Malaka. Informasi di atas menceritakan sekelumit peran yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun Islam di Asia Tenggara pada masa itu.


Kehidupan Agama Kerajaan Samudra Pasai

Samudera Pasai adalah dua kerajaan kembar yakni Samudera dan Pasai, kedua-duanya merupakan kerajaan yang berdekatan. Saat Nazimuddin al-Kamil (laksamana asal Mesir) menetap di Pasai, kedua kerajaan tersebut dipersatukan dan pemerintahan diatur menggunakan nilai-nilai Islam.

Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan pesisir sehingga pengaruhnya hanya berada di bagian Timur Sumatera. Samudera Pasai berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok di Sumatera, bahkan menjadi pusat penyebaran agama.

Selain banyaknya orang Arab menetap dan banyak ditemui persamaan dengan kebudayaan Arab, atas jasa-jasanya menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara wilayah itu dinamakan Serambi Mekah.


Masa Kejayaan Kerajaan Samudra Pasai

Membahas tentang kejayaan Kerajaan Samudra Pasai dapat kita ketahui dari beberapa isi catatan sejarah yang ada. Dalam catatan Ibn Batutah, ia menjelaskan bahwa berhasil mendarat di tempat yang sangat subur. Kondisi perdagangan di daerah ini sangat maju, ditandai dengan digunakannya mata uang dari bahan emas. Daerah ini merupakan pusat ibu kota dari Kerajaan Samudra Pasai.

Kejayaan Kerajaan Samudra Pasai terjadi pada masa pemerintahan Sultan Malik Tahir, kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan Internasional. Kondisi Pelabuhan dipenuhi dengan para pedagang dari berbagai penjuru dunia seperti Asia, Eropa, Cina bahkan Afrika. Kejayaan Samudra Pasai diperoleh dari hasil penggabungan beberapa kerajaan kecil di sekitar daerah tersebut.

Beliau memimpin kerajaan dalam kurun waktu 1297 sampai 1326 Masehi. Tercatat selama abad 13 sampai abad 16, kerajaan ini dikenal sebagai kerajaan yang mempunyai pelabuhan yang sangat sibuk. Saat itu, Samudra Pasai dapat mengekspor lada sekitar 8 ribu sampai 10 ribu bhara setiap tahunnya.

Komoditas lain juga demikian seperti sutera, emas dan kapur barus yang mereka datang kan dari daerah pedalaman. Kemajuan juga ditandai dengan mata uang yang mereka gunakan sebagai alat pembayarannya.

Kerajaan Samudra Pasai juga menjalin hubungan dagang dengan Pulau Jawa. Mereka melakukan tukar menukar hasil komoditas pertanian maupun perkebunan , seperti beras ditukar dengan lada. Selain sebagai pusat perdagangan seperti yang sudah dijelaskan di atas, Kerajaan Samudra Pasai juga menjadi pusat perkembangan agama Islam di Nusantara.


Runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai

Pada abad ke-15 kerajaan Samudra Pasai kehilangan kekuasaan perdagangan atas Selat Malaka, dan kemudian dikacaukan Portugis pada tahun 1511-20. Akhirnya kerajaan ini dihisab kesultanan Aceh  yang timbul tahun 1520-an. Warisan peradaban Islam internasionalnya diteruskan dan dikembangkan di Aceh.

Hancur dan hilangnya peranan Kerajaan Pasai dalam jaringan antarbangsa ketika suatu pusat kekuasan baru muncul di ujung barat pulau Sumatera, yakni Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan ini muncul pada abad 16 Masehi.

Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah kala itu menaklukkan Kerajaan Pasai sehingga wilayah Pasai dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Darussalam. Kerajaan Islam Samudera Pasai akhirnya dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh).

Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai, tetapi lebih dititikberatkan dalam kesatuan zona Selat Malaka. Walaupun Kerajan Islam Pasai berhasil ditaklukan oleh Sultan Asli Mughayat Syah, peninggalan dari kerajaan kecil tersebut masih banyak dijumpai sampai saat ini di Aceh bagian utara.

Pada tahun 1524 M setelah Kerajaan Aceh Menakhlukan Kesultanan Samudera Pasai tradisi mencetak deurham menyebar keseluruh wilayah Sumatera, bahkan semenanjung Malaka.  Derham tetap berlaku sampai bala tentara Nippon mendarat di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942.


Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Berikut ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan samudera pasai, antara lain:

  • Stempel Kerajaan Samudra Pasai : Stempel ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamata Samudra, Kabupaten Aceh Utara. Stempel ini diduga milik Sultan Muhammad Malikul Tahir oleh Tim peneliti Sejarah Kerajaan Islam.
  • Cakra Donya : Cakra Donya merupakan lonceng yang berbentuk stupa. Lonceng ini dibuat negeri Cina pada tahun 1409 M. Lonceng tersebut berukuran tinggi 125cm dan lebarnya 75cm.
  • Naskah Surat Sultan Zainal Abidin : Surat ini merupakan tulisan dari Sultan Zainal Abidin pada tahun 923H atau 1518 Masehi, naskah ini ditujukan kepada Kapitan Moran
  • Makam : ditemukan beberapa makam raja, salah satunya makam dari Sultan Malik Al Saleh dan terdapat juga makam raja-raja lainnya.

Demikian Pembahasan Tentang Kerajaan Samudra Pasai: Sejarah, Letak, Silsilah, Masa Kejayaan, Runtuh dan Peninggalan dari Pendidikanmu
Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca :)

Baca Artikel Lainnya:

Please rate this